harga bbm

/

Sinyal Kenaikan Harga Pertalite Semakin Kuat!

Jakarta, Retensi.id – BBM jenis Pertalite dimungkinkan mengalami kenaikan harga. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengakui bahwa pembahasan hal tersebut tengah dilakukan pemerintah. BBM jenis Pertalite tersebut termasuk dalam jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dengan pemerintah

Harga BBM RON 92 Milik Vivo Termurah per 2 Januari 2023

JAKARTA, RETENSI.ID – Badan usaha penyalur bahan bakar minyak () PT (Vivo) dan kompak menurunkan harga untuk produk BBM-nya per 1 Januari 2023. Dengan adanya penyesuaian ini, jenis bensin RON 92 milik Vivo terpantau menjadi yang termurah untuk saat ini.

Berdasarkan pantauan Bisnis di SPBU Vivo dan BP AKR di kawasan Antasari, Jakarta, penurunan harga terjadi pada semua jenis bensin dengan kadar oktan (research octane number/RON) 90, 92, dan 95.

Vivo menurunkan harga BBM Revvo 90 menjadi Rp11.800 per liter dari sebelumnya, Rp12.000 per liter, sementara BP AKR menurunkan harga BP 90 menjadi Rp12.940 per liter dari sebelumnya Rp14.050 per liter.

Jika dibandingkan dengan harga BBM RON 90 milik kedua SPBU swasta tersebut, harga BBM RON 90 yang dijual PT (Persero), yakni , masih lebih murah. Harga jual Pertalite dipatok Rp10.000 per liter.

Kemudian, untuk BBM RON 92, harga BBM Revvo 92 diturunkan menjadi Rp12.800 per liter atau turun Rp1.200 dari yang sebelumnya Rp14.000 per liter. BP AKR juga menurunkan harga BBM BP 92 dari sebelumnya Rp14.150 menjadi Rp13.030 per liter.

Berbeda dengan SPBU swasta lainnya, dan Pertamina belum melakukan penyesuaian harga BBM. Untuk Shell Super RON 92 saat ini masih berada di harga Rp14.180 per liter dan untuk (RON 92) berada di harga Rp13.900 sampai Rp14.500 per liter.

Dengan demikian, harga Revvo 92 milik Vivo saat ini terpantau menjadi yang paling murah untuk harga BBM dengan RON 92.

Untuk jenis BBM RON 95, Vivo menjual Revvo 95 dengan harga Rp13.600 per liter atau turun Rp1.000 dari yang sebelumnya Rp 14.600 per liter. BP AKR juga menurunkan harga BP Ultimate (RON 95) dari yang sebelumnya Rp15.100 per liter sekarang menjadi Rp13.810.

Adapun, untuk harga Shell V-Power RON 95 pun berada di kisaran harga Rp15.100-Rp15.430 per liter.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) terakhir kali melakukan penyesuaian harga BBM pada Desember 2022. Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex.

Harga Pertamax Turbo naik dari Rp14.300 menjadi Rp15.500. Kemudian, harga Dexlite naik menjadi Rp18.300 dari sebelumnya Rp18.000 per liter dan Pertamina Dex naik menjadi Rp18.800 dari sebelumnya Rp18.550 per liter.

1. BBM RON 90

Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter berlaku satu harga seluruh Indonesia)

Vivo Revvo 90 : Rp11.800 per liter

BP 90: Rp12.940 per liter

 

2. BBM RON 92

Pertamax (RON 92): Rp13.900 – Rp14.500 per liter

Vivo Revvo 92 : Rp12.800 per liter

BP 92 : Rp13.030

Shell Super RON 92: Rp14.180-Rp14.490 per liter

 

3. BBM RON 95

BP Ultimate: Rp13.910 per liter

Vivo Revvo 95 : Rp13.600 per liter

Shell V-Power RON 95: Rp15.100-Rp15.430 per liter

Update Harga BBM 1 September: Pertamax Turbo Cs Turun, Pertalite Tetap

Jakarta, Retensi.id – Mulai 1 September 2022, Turbo, Dexlite, dan Dex turun harga, sedangkan Pertalite di harga tetap.

Perubahan tersebut merupakan kebijakan yang berdasarkan pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 62 K/12/MEM/2020.

Pada situs resmi Pertamina pada Rabu (31/8/2022), menuliskan bahwa Pertamina melakukan penyesuaian penurunan harga Bahan Bakar Minyak tersebut.

Penurunan harga Pertamax Turbo Rp2.000 per liter, yaitu dari Rp17.900 menjadi 15.900 terjadi di wilayah DKI, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Sementara itu, harga Dexlite turun Rp700 per liter menjadi Rp17.100, dan harga Pertamina Dex turun Rp1.500 per liter menjadi Rp17.400.

Walaupun terjadi penurunan harga Pertamax Turbo dan Dexlite, harga BBM jenis lainnya termasuk BBM bersubsidi tetap sama.

Berikut daftar lengkapnya

(Ron 90) : Rp7.650
Pertamax (Ron 92): Rp12.500
Pertamax (Ron 98) Rp15.900
/Biodiesel (subsidi) : Rp5.150
Dexlite (CN 51): Rp17.100
Pertamina Dex (CN 53) : Rp17.400

Sinyal Kenaikan Harga BBM Subsidi Semakin Kuat

/
Jakarta, Retensi.id – Sinyal BBM bersubsidi semakin nampak. Penyesuaian untuk menekan pembengkakan subsidi semakin serius dilakukan pemerintah.

Perhitungan dan pembahasan terkait kebijakan yang tepat terus dilakukan pemerintah. Hal tersebut sebagai pencarian solusi atas meningkatnya masalah subsidi energi yaitu kenaikan harga . Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikannya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR.

Di Kementerian Koordinator Perekonomian, ada rapat lintas kementerian yang dipimpin Airlangga Hartarto untuk perhitungan kenaikan harga yang disesuaikan dengan dampaknya terhadap inflasi.

Arifin pada Rabu (24/8/2022) mengungkapkan bahwa skema yang tepat sedang dicari oleh pemerintah untuk melakukan exercise terhadap harga BBM.

Dalam menentukan kebijakan subsidi energi, salah satu yang menjadi pertimbangan adalah dampaknya terhadap kenaikan tingkat inflasi.

Arifin mengatakan, tingkat inflasi Indonesia terakhir kali berada di level 4,94%. Kontribusi kenaikan harga energi cukup besar, yaitu sekitar 1,6% dikarenakan pergerakan yang cukup pesat di sektor transportasi.

Sebagai opsi dalam menekan kebijakan subsidi, pemerintah melakukan pembahasan terkait beberapa hal. Pertama, adanya proses digitalisasi di sebagai perencanaan program pembatasan . Kedua, kebijakan pemberian subsidi tepat sasaran berbasis orang.

Ketiga, penegakan hukum terkait penyaluran subsidi di lapangan. Terakhir, opsi kebijakan kenaikan .

Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada Rabu (24/8/2022) saat usai rapat terbatas di Istana Presiden, mengungkapkan bahwa isu pencabutan subsidi BBM tengah didiskusikan oleh jajaran menteri.

Sri Mulyani mengatakan bahwa hasil diskusi akan dilaporkan kepada Presiden Jokowi. Namun belum ada rencana pencabutan subsidi.

Sinyal Kenaikan Harga Pertalite Semakin Kuat!

/
Jakarta, Retensi.id jenis dimungkinkan mengalami kenaikan harga. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengakui bahwa pembahasan hal tersebut tengah dilakukan pemerintah.

BBM jenis Pertalite tersebut termasuk dalam jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dengan pemerintah sebagai penentu harga dan tidak dilepaskan ke pasar.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto sedang melakukan pembahasan intens terkait pembahasan pertalite.

Menurut Arifin, perubahan Peraturan Presiden (Perpres) diperlukan dalam upaya menaikkan . Sehingga membutuhkan pembahasan dengan waktu yang lebih lama.

Airlangga Hartarto juga menyampaikan hal serupa bahwa imbas lonjakan harga minyak dunia, maka pemerintah mengkaji kembali harga BBM. Inflasi dan pertumbuhan ekonomi ke depan menjadi hal yang dipertimbangkan.

Dalam konferensi pers Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023, Airlangga menyampaikan bahwa review sedang dilakukan pemerintah terkait kebutuhan.

Hal tersebut merupakan akibat dari kenaikan harga BBM baik dari segi volume maupun kebijakan selanjutnya. Perhitungan terhadap potensi kenaikan inflasi dan efek PDB ke depan dilakukan pemerintah.

Sebagai upaya perlindungan untuk masyarakat, sedang dipertimbangkan pula terkait bantalan Bantuan Sosial (Bansos). Pemerintah harus mempersiapkan bansos kepada masyarakat yang membutuhkan, jika harga BBM mengalami kenaikan harga.

Pemerintah melakukan kalkulasi terhadap kebutuhan masyarakat terkait kompensasi dalam berbagai program yang sedang berjalan, seperti saat penanganan Covid-19.

Supaya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya Pertalite dan tidak mengalami kenaikan atau bertahan di bawah harga keekonomian, maka subsidi digelontorkan.

Sebagai contoh, Pertamax yang seharusnya dijual Rp 15.150 per liter menjadi dijual Rp 12.500. Pertalite seharusnya harga Rp 13.150 namun dijual dengan harga Rp 7.650 per liter.

Perbandingan antara harga BBM di negara lain dan di Indonesia jauh lebih murah, bahkan jika dijual dengan harga pasar.

Thailand seharga Rp 19.500/liter, Vietnam Rp 16.645/liter, dan Filipina Rp 21.352/liter. Indonesia relatif di bawah dari negara ASEAN lain.

Inilah Biang Kerok akan Kenaikan Harga Pertalite, LPG, & Solar

/
Jakarta, Retensi.id – Rencana Bahan Bakar Minyak jenis dan bersubsidi, serta Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi 3 kg, kembali digaungkan oleh pemerintah.

Rencana kenaikan tersebut diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Akan dilakukan penyesuaian harga Pertalite,minyak Solar, serta LPG 3 kg dalam jangka menengah. Hal tersebut sebagai respons atas lonjakan harga minyak dunia. Juga dilakukan percepatan pengganti bahan bakar seperti Bahan Bakar Gas (BBG), bioethanol, bio CNG, dan lainnya.

Harga Pertalite dan Solar subsidi pada periode 1 April 2022, masing-masing yaitu Rp 7.650 per liter dan Rp 5.150 per liter. Harga tersebut tidak mengalami perubahan. Sementara harga (RON 92), dari sebelumnya Rp 9.000 – Rp 9.400 per liter, sudah dinaikkan menjadi Rp 12.500 – Rp 13.000 per liter.

Sedangkan harga Solar non subsidi sudah dibanderol sebesar Rp 12.950 – Rp 13.550 per liter untuk jenis Dexlite (CN 51). Artinya, ada selisih setidaknya Rp 7.800 per liter dengan harga Solar bersubsidi.

Arifin mengatakan, serangan Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 berdampak pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) juga terkena imbasnya.

Pada Maret, ICP mencapai US$ 98,4 per barel. APBN hanya mengasumsikan sebesar US$ 63 per barel, sedangkan ICP tersebut jauh di atasnya.

Asumsi awal pemerintah terkait internasional hanya di kisaran US$ 569 per metrik ton. Nyatanya, telah mencapai US$ 839,6 per metrik ton jika merujuk pada Contract Price (CP) Aramco.

Arifin menuturkan, akan dilakukan peningkatan pengawasan pendistribusian LPG 3 kg tepat sasaran dalam jangka pendek untuk menjaga ketersediaan LPG dan mengurangi impor. Juga dilakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah dan aparat penegak hukum, uji coba penjualan dengan aplikasi MyPertamina di 34 kabupaten/kota do 2022, serta menyesuaikan formula LPG 3 kg.

Pemerintah akan melakukan substitusi kompor LPG dengan kompor induksi (listrik), jaringan gas kota (jargas) untuk jangka menengah. Skema subsidi yang kini berbasis pada komoditas juga diubah menjadi subsidi langsung ke penerima. Serta untuk mengurangi 1 juta metrik ton LPG pada 2027, disubstitusi dengan Dimethyl Ether (DME).

Menteri ESDM itu juga menyebutkan bahwa dari kuota 8 juta metrik ton, sudah terserap 1,87 juta metrik ton LPG subsidi. Namun belum ada rencana untuk menambah kuota LPG 3 kg dalam sejauh ini.